Membentuk Pustakawan Profesional Menuju Pengembangan Perpustakaan Ideal

Ideal merupakan kata yang akan memiliki banyak arti dikarenakan ini sangat berhubungan dengan pandangan pribadi seseorang. Akan sangat sulit untuk mengatakan bahwa sesuatu itu sudah ideal atau belum. Mungkin ideal bagi pemahaman satu orang akan sangat berbeda dengan pemahaman orang lain. Begitu juga halnya dengan sebuah perpustakaan ideal. Perpustakaan ideal akan memiliki pengertian bahwa perpustakaan itu mendekati atau hampir memenuhi keinginan semua orang dan harapan orang-orang terhadap sebuah perpustakaan. Walaupun pada akhirnya ideal ini tidak akan tercapai dikarenakan sifat manusia yang tidak pernah merasa puas. Selalu saja ada hal-hal yang harus diperbaiki atau diperbaharui setiap hari bahkan setiap detiknya. Sudah tidak terbantahkan lagi arti penting kehadiran perpustakaan karena manfaatnya yang sangat besar bagi upaya mencerdaskan masyarakat baik yang tinggal di perkotaan, pedesaan, dan tidak mengenal status sosial, semua memerlukan perpustakaan.

Ada beberapa hal yang harus dicapai atau dimiliki oleh sebuah perpustakaan yang bisa disebut ideal, antara lain gedung yang nyaman dan letaknya strategis serta didukung oleh teknologi informasi yang up to date, administrasi perpustakaan dikelola sesuai dengan prosedur, Jaringan sosial dan informasi antar perpustakaan terjalin dengan baik, adanya sumber dana yang cukup, dan yang tidak boleh dilupakan adalah memiliki SDM yang berkompeten di bidang perpustakaan. Perpustakaan yang selalu tumbuh dan berkembang sesuai dengan tuntutan masyarakat informasi erat hubungannya dengan SDM atau orang yang bekerja mengelola perpustakaan (pustakawan), bagi masyarakat awam profesi pustakawan merupakan pekerjaan most unpopular job (pekerjaan paling tidak menyenangkan) tetapi tidak semua orang tahu bahwa pekerjaan pustakawan sangatlah kompleks, bergengsi dan intelek karena pekerjaannya bersentuhan dengan ilmu pengetahuan dan memerlukan keahlian khusus.

Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) sebagai organisasi yang menghimpun para pustakawan (dalam Rachman, 2006: 45-46) menyatakan bahwa “pustakawan” adalah seorang yang melaksanakan kegiatan perpustakaan dengan jalan memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan tugas lembaga induknya berdasarkan ilmu pengetahuan, dokumentasi dan informasi yang dimilikinya melalui pendidikan. Pustakawan adalah seorang yang berkarya secara professional di bidang perpustakaan dan informasi. Berdasarkan definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa pustakawan adalah profesi bagi orang yang bekerja di perpustakaan dan pusat informasi. Profesi pustakawan tidak membedakan antara pustakawan pemerintah (PNS) atau pustakawan swasta (NON- PNS).

Dari uraian diatas menimbulkan beberapa pertanyaan, bagaimana dengan kondisi profesionalisme pustakawan saat ini, apakah pustakawan sudah melaksanakan tugasnya dengan profesional? Karena fakta di lapangan menunjukkan bahwa masih ada pustakawan yang belum profesional dalam pekerjaannya, berikut ini merupakan faktor pemicu ketidakprofesionalan pustakawan dalam pekerjaan antara lain:

1.    Latar belakang pendidikan pustakawan.

Latar belakang pendidikan pustakawan yang non-perpustakaan sedikit banyak dapat menghambat lancarnya kegiatan kerja sehingga profesionalisme pustakawan sebagai tenaga fungsional diragukan. Pernyataan pustakawan merupakan tenaga profesional yang menuntut keahlian khusus, sesuai dengan pernyataan Lasa HS dalam Blog Cerita Ning (http://ceritaning.blogspot.com)  bahwa “pendidikan profesional diarahkan terutama untuk penguasaan keahlian tertentu”. Pengelola yang berpendidikan Ilmu Perpustakaan diharapkan selain dapat menguasai dan mengembangkan Ilmu Perpustakaan, juga dapat mengembangkan profesi kepustakawanan. Dengan begitu seorang pustakawan bisa menduduki dan melaksanakan jabatan fungsional dengan baik. Saat ini, untuk membentuk pustakawan yang profesional di bidangnya selain melalui pendidikan formal, bisa juga didapat dari pendidikan non formal yaitu berupa training dan pelatihan secara continue di bidang perpustakaan.

2.    Ketidakmampuan pustakawan dalam berkomunikasi dengan baik.

Penyebab ketidakmampuan pustakawan dalam berkomunikasi diantaranya pustakawan tidak percaya diri atau tidak yakin dengan kemampuannya, pustakawan tidak menguasai bahasa dan yang lainnya. Komunikasi merupakan salah satu soft competency pustakawan, Sri Rohyanti Zulaikha dalam Blog Cerita Ning (http://ceritaning.blogspot.com) mengatakan “..bahwa salah satu soft competency diantaranya adalah kemampuan komunikasi dan bagaimana berkomunikasi yang efektif karena pustakawan adalah  mitra intelektual yang memberikan jasa kepada pemakai’’. Jadi seorang pustakawan harus ahli dalam berkomunikasi baik lisan maupun tulisan. Dapat disimpulkan bahwa komunikasi yang baik merupakan modal utama untuk mendukung kelancaran interaksi yang baik pula antar sesama pustakawan dan pustakawan dengan pemustaka sehingga pekerjaan sebagai penyedia jasa informasi dan penerima jasa informasi berjalan lancar. Selain itu, dapat dilakukan kegiatan pelatihan dan lomba menulis artikel, pidato, story telling dengan tujuan pustakawan terlatih dan termotivasi untuk menulis sehingga masalah komunikasi dapat diatasi.

3.    Belum adanya kesiapan pustakawan sebagai penyedia jasa informasi.

Dalam arti pustakawan masih menganggap dirinya hanya duduk diam menjaga koleksi. Ini disebabkan kurangnya rasa ingin tahu dan rasa empati terhadap pekerjaan dan pengguna. Untuk itu, perlu diadakannya suatu pelatihan yang mengasah emotional intelligence pustakawan. Pelatihan ini bertujuan untuk memahami perasaan sendiri dan orang lain sekaligus dapat memotivasi diri untuk lebih peka terhadap lingkungannya.

Terwujudnya perpustakaan ideal tergantung kepada peran nyata seluruh pihak terkait, baik masyarakat, pemerintah, swasta, dan pengelola perpustakaan itu sendiri. Karena perpustakaan ideal tidak akan pernah memiliki makna jika hanya sebatas gambaran dan tulisan yang tidak diimplementasikan. Oleh karena itu, aksi nyata seluruh pihak menjadi penentu terbangun atau tidaknya serta berhasil atau gagalnya perpustakaan ideal itu. Dengan memiliki SDM yang profesional di bidang perpustakaan akan mendukung pengembangan perpustakaan ideal yang dapat memenuhi keinginan dan harapan orang banyak, sehingga perpustakaan ideal yang diidamkan mudah-mudahan dapat menjadi kenyataan.

DAFTAR PUSTAKA

Rachman, Hermawan.2006. Etika Kepustakawanan : Suatu Pendekatan Terhadap Kode Etik  Pustakawan Indonesia. Jakarta : Sagung Seto.

Lasa.HS.2010. ”Pendidikan dan Profesi Pustakawan”. Diambil dari Ceritaning.blogspot.com/2011_01_01_archive.html pada tanggal 18 Februari 2015. Rabu. 15.35 wib.

Zulaikha, Sri Rohyanti.2010. Materi Perkuliahan “Ketrampilan Sosial dalam Konteks Kepustakawanan”. Diambil dari Ceritaning.blogspot.com/2011_01_01_archive.html. pada tanggal 18 Februari 2015.Rabu.15.45 wib.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *