Perpustakaan, Sarana Cerdas Meraih Kecerdasan

Oleh Aflahah Nur Zakiyah

Perpustakaan sekolah merupakan bagian penting dari sebuah sekolah yang menyediakan berbagai ilmu pengetahuan dan informasi. Perpustakaan menjadi sumber ilmu pengetahuan dan informasi yang berada di sekolah, baik tingkat dasar sampai dengan tingkat menengah. Begitu pentingnya peran perpustakaan sekolah di lembaga pendidikan menjadikan perpustakaan disebut sebagai jantungnya pendidikan, yang ikut menentukan keberhasilan proses penyampaian ilmu pengetahuan di sekolah.

Keberadaan perpustakaan dengan dunia pendidikan memeliki keterkaitan yang sangat erat. Perpustakaan berfungsi sebagai salah satu faktor yang mempercepat proses transfernya ilmu pengetahuan. Sedangkan pendidikan, merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran. Hal ini akan mendukung realisasi Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003, tentang sistem pendidikan nasional, bahwa pemerintah diharapkan mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu secara relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan, sesuai dengan tuntunan perubahan kehidupan lokal, nasional dan global.

Untuk itulah, perpustakaan sekolah harus dapat memainkan peran, khususnya dalam membantu anak didik untuk mencapai tujuan pendidikan. Agar tujuan tersebut tercapai, perpustakaan sekolah perlu berbenah dengan mempersiapkan tenaga pustakawan yang profesional, koleksi yang menarik dan berkualitas, serta serangkaian aktivitas layanan yang mudah dan ramah, sehingga menarik minat anak didik untuk memanfaatkan perpustakaan.

Dengan memaksimalkan perannnya, diharapkan perpustakaan sekolah dapat ikut  menumbuhkan kebiasaab membaca pada anak didik, yang pada tahap selanjutnya anak didik menjadi mudah memahami materi pelajaran di kelas. Di samping itu, anak didik dapat dengan mudah mengerti maksud dari sebuah informasi dan ilmu pengetahuan, serta menghasilkan karya bermutu. Dengan demikian, pada akhirnya akan tercipta kecerdasan pada diri anak didik, sehingga prestasi pun relatif mudah untuk diraih.

Anak didik yang yang memiliki kegemaran membaca dan belajar, tentu dapat memanfaatkan perpustakaan dengan sebaik-baiknya. Anak didik yang dapat memanfaatkan perpustakaan dengan sebaik-baiknya, tentu akan memperoleh kecerdasan sebagai dampaknya. Siapapun yang ingin cerdas pasti berusaha menambah ilmu pengetahuan, keterampilan, dan wawasan. Hal tersebut dapat tercapai dengan belajar (membaca). Padahal  sumber belajar yang relatif lebih lengkap dan mudah diperoleh tersedia di perpustakaan.

Dengan terbiasa membaca buku, anak didik akan terasah otak dan pola pikirnya. Kegiatan membaca harus dijadikan aktivitas siswa sehari-hari. Buku harus dicintai dan bila perlu dijadikan sebagai kebutuhan pokok bagi anak didik. Setelah terbiasa membaca, anak didik dapat pula dibiasakan berdiskusi untuk membahas hal-hal yang berkaitan dengan buku yang telah mereka baca. Dengan demikian, otak mereka akan semakin terasah. Bukankah otak yang mekin terasah akan menjadi semakin tajam?

Nah, apabila perpustakaan sekolah sudah dapat menjalankan perananannya dengan baik, perpustakaan sekoah tentu akan menjadi media yang cerdas untuk menciptakan anak didik yang cerdas pula.*)

Penulis adalah Pustakawan
Perpustakaan
 MAN 2 Banjarnegara

Peranan Perpustakaan Sekolah Dalam Proses Belajar Mengajar


Peranan perpustakaan sekolah didalam dunia pendidikan amatlah penting yaitu untuk membantu terselenggaranya pendidikan yang bermutu. Karena perpustakaan sekolah merupakan salah satu sumber belajar yang ada di sekolah, oleh karena itu, perpustakaan harus menjalankan fungsinya dengan baik untuk menyediakan informasi yang dibutuhkan oleh siswa dan guru. Perpustakaan sebagai sumber belajar merupakan tahap awal dalam proses belajar yaitu tahap mencari informasi yang bertujuan menyerap dan menghimpun informasi, mewujudkan suatu wadah pengetahuan yang terorganisir, menumbuhkan kemampuan menikmati pengalaman   imajinatif, membantu perkembangan kecakapan bahasa dan daya pikir, mendidik siswa agar dapat menggunakan dan memelihara bahan pustaka secara efisien  serta memberikan dasar kearah pembelajaran mandiri.

Perlu diingat bahwa pengaruh perpustakaan sekolah dalam proses belajar mengajar sangat tergantung pada kemampuan perpustakaan dalam menjalankan fungsinya serta adanya usaha siswa untuk memperoleh informasi melalui perpustakaan karena disinilah adanya hubungan timbal balik antara siswa dan perpustakaan tersebut yaitu siswa mempunyai kebutuhan dalam memperoleh informasi dan informasi itu dapat diperoleh dan dipenuhi oleh perpustakaan,  selain itu perlunya perhatian sekolah  untuk memberdayakan perpustakaan perpustakaan sekolah dengan segala penunjang yang dibutuhkan, serta kerja sama dengan guru untuk memotivasi siswa menggunakan perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar, baik dengan memberikan tugas terstuktur yang datanya di dapat dari buku referensi yang ada di perpustakaan, maupun dengan menggunakan pelajaran Bahasa Indonesia  dengan kegiatan Visit Library, akan membuat anak menjadi terampil membaca dan menuliskan sinopsis sederhana dari buku yang dibacanya,   Dengan demikian akan menumbuhkan minat baca siswa sehinggah mereka dapat bekerja menjadi individu yang gemar menggali informasi dari buku sebagai jendela dunia.

Untuk menunjang hal tersebut harus adanya perpustakaan yang efektif, yaitu perpustakaan yang mempunyai koleksi bahan pustaka yang memadai bagi siswa untuk mencari informasi, yang sesuai dengan kurikulum sekolah dan  bacaan yang sesuai dengan selera para pembaca yaitu para siswa yang ada di sekolah tersebut.  Sesuai dengan UU Perpustakaan No 43 Tahun 2007 menjelaskan bahwa koleksi perpustakaan diseleksi, diolah, disimpan, dilayankan,  dan dikembangkan sesuai dengan kepentingan pemustaka dengan memperhatikan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, selain koleksi yang harus diperhatikan adalah suasana perpustakaan yang menarik perhatian siswa, nyaman, mempunyai tempat yang cukup untuk siswa dalam membaca, menulis dan jika memungkinkan ada juga fasilitas komputer. Perpustakaan juga harus berada pada lokasi yang tenang dan jauh dari kebisingan. Luas ruang perpustakaan juga harus memadai dengan penerangan yang bagus, tempat duduk yang nyaman untuk membaca. Buku – buku hendaknya tersusun dengan rapi  dan terpajang di rak buku. Untuk itu diperlukan pustakawan yang benar– benar seseorang yang memiliki latar belakang pendidikan ilmu perpustakaan atau pernah mengikuti pelatihan dalam perpustakaan. Pustakawan mempunyai hak otonom dalam hal mengatur, mengolah koleksi cetak dan elektronik.  Pustakawan juga harus bersikap ramah dan luwes dalam memberikan pelayanan kepada pembaca dan memberikan informasi berkaitan dengan koleksi perpustakaan dengan pelayanan yang baik itu maka siswapun akan merasa senang dan rajin untuk mengunjungi perpustakaan tesebut dengan demikian minat baca pada siswapun menjadi meningkat. Sehingga perpustakaan juga bisa berfungsi sebagai perlengkapan pendidikan yang memiliki kemampuan dalam menjebatani proses transfer ilmu pengetahuan kepada siswa.

Secara terperinci manfaat perpustakaan sekolah adalah sebagai berikut: dapat menimbulkan kecintaan, kesadaran dan kebiasaan siswa terhadap membaca, dapat memperkaya pengalaman belajar siswa dapat menambah kebiasaan belajar mandiri yang akhirnya membuat siswa mampu untuk belajar mandiri, dapat mempercepat proses penguasaan teknik membaca ,dapat membantu perkembangan kecakapan berbahasa dan daya pikir para siswa dengan menyediakan bahan bacaan yang bermutu, dapat membantu siswa dan guru dan anggota staf sekolah menemukan sumber – sumber pengajaran.

Tujuan perpustakaan sekolah berperan dalam proses pendidikan sepanjang hayat. Dengan adanya perpustakaan sekolah diharapkan juga mampu untuk memberikan kontribusi dalam peningkatan mutu pendidikan dan upaya menumbuhkan minat baca. Dengan meningkatnya minat baca  pada siswa akan berimbas pada kemajuan pendidikan di Indonesia serta mampu mengarahkan pada tujuan negara yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, untuk itu diperlukan kerja sama antara pemerintah, kepala sekolah, guru, pustakawan serta komite sekolah dalam membuat program kerja untuk memberi layanan yang maksimal kepada pemustaka, agar perpustakaan sekolah dapat memberikan peranan sebagai penunjang proses belajar dan mengajar dan juga dapat meningkatkan mutu bagi pendidikan di Indonesia.

PERPUSTAKAAN  dan PERKEMBANGANNYA DI  INDONESIA

Oleh  :

AGUS WAHYU PRIUTOMO

  1. Pengertian Perpustakaan

Perpustakaan dibentuk dari kata dasar “pustaka”, yang secara harfiah berarti kitab atau buku. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, perpustakaan dimaknai sebagai kumpulan buku-buku. Kata perpustakaan yang dalam bahasa Inggris disebut library berasal dari bahasa Latin liber atau libri yang dalam perkembangannya kemudian berubah menjadi librarius, yang maknanya tentang buku (Sulistyo-Basuki dalam Suwarno, 2007). Istilah perpustakaan dalam berbagai bahasa, disebut dengan : bibliotheek (Belanda), bibliothek (Jerman), bibliotheque (Perancis), bibliotheca (Spanyol/Portugis), yang semua itu berasal dari bahasa Yunani, yaitu biblia.

Beberapa pengertian tentang perpustakaan, antara lain :

  1. a room or building where a collection of books and newspapers, or things such as films or records is kept to be used by members(sebuah ruangan atau bangunan yang koleksi buku-buku dan surat kabar-surat kabar, atau benda-benda seperti  film  atau  rekaman-rekaman, terpelihara  dengan  baik untuk digunakan oleh para anggotanya)  (Chambers Essential English Dictionary, 1995).
  1. a collection of books, or a similar collection of things such as films or records (suatu koleksi dari buku-buku atau semacam koleksi dari benda-benda seperti film atau rekaman-rekaman) (Chambers Essential English Dictionary, 1995)
  1. kumpulan   buku,  manuskrip   dan   bahan   pustaka   lainnya  yang  digunakan  untuk

keperluan  studi  atau  bacaan, kenyamanan atau kesenangan (Webster’s Third Edition

International Dictionary, 1961)  

  1. kumpulan materi cetak dan media non cetak dan atau sumber informasi dalam komputer, yang disusun secara sistematik untuk digunakan pemakai (International Federation of Library Associations and Institutions/IFLA)
  1. sebuah ruangan, bagian dari sebuah gedung ataupun gedung itu sendiri, yang digunakan untuk menghimpun buku dan terbitan yang biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu untuk digunakan pembaca, bukan untuk dijual (Sulistyo Basuki, dalam Sumiati dan Arief, 2004)
  1. Unit Perpustakaan, dokumentasi dan informasi adalah unit kerja yang memiliki sumberdaya manusia, ruangan khusus dan koleksi bahan pustaka, sekurang-kurangnya 1000 judul dari berbagai disiplin ilmu yang sesuai dengan jenis perpustakaan yang bersangkutan, dan dikelola menurut sistem tertentu (Keputusan Menteri  Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Republik Indonesia No. 132/KEP/M.PAN/12/2002). Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional, dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi dan rekreasi para pemustaka (Undang-Undang Republik Indonesia No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan)

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perpustakaan adalah merupakan :

v  koleksi yang terdiri dari kumpulan materi cetak seperti buku, majalah, surat kabar atau  media  non  cetak  berupa  film, disket dan lain-lainnya, yang terpelihara dengan baik  dan  digunakan  untuk  keperluan  studi,  bacaan  maupu n sumber infomasi bagi yang membutuhkan

v  ruangan bagian dari sebuah gedung ataupun gedung itu sendiri, yang ditata secara khusus untuk menyimpan, memelihara dan menggunakan koleksi-koleksi yang ada baik yang berbentuk materi cetak maupun  media non cetak.

v  unit kerja atau institusi pengelola koleksi baik  berupa materi cetak maupun media non cetak, yang diselenggarakan secara profesional, dengan sistem yang telah dibakukan.

Berkembangnya    teknologi    informasi    berdampak     pada    penyelenggaraan

perpustakaan antara lain, penggunaan komputer untuk pengembangan, pengolahan maupun pemeliharaan koleksi yang dimiliki, sehingga bentuk perpustakaanpun berubah menjadi ”perpustakaan elektronik” (eletronic library), yakni  perpustakaan yang koleksinya berupa produk elektronik, seperti pita magnetik, disket dan lain-lainnya. Disebut juga sebagai ”perpustakaan digital” (digital library), karena koleksi yang ada cenderung berbentuk digital.

  1. Perkembangan Perpustakaan di Indonesia
  2. Era Sebelum Penjajahan       Bangsa  Indonesia  telah  lama  mengenal  peradaban baca tulis. Prasasti Yupa di Kutai Kalimantan Timur yang diperkirakan berasal dari abad ke V Masehi, merupakan bukti sahih tentang keberadaan peradaban tersebut (Almasyari, 2007).

Pada era kerajaan Hindu-Budha, banyak lahir mahakarya para empu seperti Negarakertagama, Arjunawiwaha, Mahabharata, Ramayana, Sutasoma dll. Karya-karya tersebut merupakan hasil interaksi antara kebudayaan khas Indonesia dengan budaya asing, utamanya India. Pada saat itu kerajaan-kerajaan telah memiliki semacam pustaloka, yakni tempat untuk menyimpan beragam karya sastra ataupun kitab-kitab yang ditulis oleh para pujangga. Hanya saja pemanfaatan naskah-naskah tersebut bukan untuk konsumsi masyarakat (Sumiati dan Arief, 2004).

Perkembangan perpustakaan mengalami pasang naik di era kerajaan Islam. Masuknya budaya Arab yang kemudian berinteraksi dengan kebudayaan Melayu semakin memperkaya khasanah budaya Indonesia. Pada masa ini banyak dihasilkan karya-karya besar seperti, kitab Bustanus Salatin, Hikayat Raja-Raja Pasai, Babad Tanah Jawi dll. Kitab-kitab tersebut biasanya disimpan di dekat keraton atau masjid, yang menjadi pusat aktivitas kerohanian dan kebudayaan.

  1. Era Pemerintahan Hindia- Belanda

Masuknya Bangsa Belanda dengan membawa teknologi bidang percetakan, semakin mempercepat  perkembangan budaya baca tulis di Indonesia. Di samping mendatangkan mesin cetak, mereka membangun gedung perpustakaan di beberapa daerah. Salah satu yang sampai sekarang masih eksis, adalah Kantoor voor de Volkslektuur  yang kemudian berganti nama menjadi Balai Pustaka.

Semasa pemerintah Belanda menjalankan politik etis, Commissie voor de Volkslektuur merupakan lembaga yang berperan dalam pemberdayaan perpustakaan. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan, antara lain menambah jumlah perpustakaan di desa dan sekolah kelas dua di Jawa dan Madura, melengkapi koleksinya dengan terbitan-terbitan dalam bahasa Jawa, Sunda, Melayu dan Madura.

  1. Era Pemerintahan Jepang

Ketika Jepang menguasai Indonesia, mereka mengeluarkan kebijakan berupa larangan penggunaan buku-buku yang ditulis dalam bahasa Inggris, Belanda dan Perancis di sekolah-sekolah. Akibatnya, banyak buku terutama yang menggunakan bahasa Belanda dimusnahkan. Kondisi ini justru menguntungkan bagi perkembangan perpustakaan di Indonesia, karena dengan kebijakan tersebut buku yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia jumlahnya menjadi semakin meningkat. Beberapa surat kabar yang terbit dengan menggunakan bahasa Indonesia pada saat itu, antara lain Suara Asia, Cahaya Asia dll.

  1. Era Pemerintahan Republik Indonesia

Di tengah konsentrasi untuk menghadapi invasi pasukan Inggris dan Belanda dan pemberontakan di beberapa daerah, pada tahun 1948 pemerintah mendirikan Perpustakaan Negara Republik Indonesia di Yogyakarta. Banyaknya permasalahan yang dihadapi, mengakibatkan perkembangan perpustakaan di Indonesia menjadi lambat. Ketika kondisi negara mulai mapan, pada kurun waktu tahun 1950-1960 pemerintah Republik Indonesia mulai mengembangkan perpustakaan melalui pendirian Taman Pustaka Rakyat /TPR (Sumiati dan Arief, 2004).

Pada tahun 1956 berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 29103, Pepustakaan Negara didirikan di beberapa wilayah di Indonesia denga tujuan untuk membantu perkembangan perpustakaan dan menyelenggarakan kerjasama antar perpustakaan yang ada. Perhatian Pemerintah terhadap pengembangan perpustakaan terus meningkat. Pada tahun 1969 dialokasikan dana untuk mendirikan Perpustakaan Negara di 26 Provinsi yang berfungsi sebagai Perpustakaan Wilayah di bawah binaan Pusat Pembinaan Perpustakaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 0164/0/1980, pada tahun 1980 didirikan Perpustakaan Nasional, sebagai Unit Pelaksana Teknis bidang perpustakaan di lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kartosedono (Sumiati dan Arief, 2004) menyatakan bahwa Perpustakaan Nasional merupakan hasil integrasi dari Perpustakaan Sejarah Politik dan Sosial, Bidang Bibliografi dan Deposit  Pusat Pembinaan Perpustakaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Perpustakaan Museum Nasional dan Perpustakaan Wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

Dalam perkembangannya, melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia No.11 Tahun 1989, Perpustakaan Nasional yang kala itu merupakan unit pelaksana teknis di lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, berubah menjadi Lembaga Pemerintah Non Departemen, yang langsung bertanggungjawab kepada Presiden. Pembentukan organisasi ini merupakan penggabungan antara Perpustakaan Nasional dengan Perpustakaan Wilayah yang ada di 27 provinsi. Pada tahun 1997 berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 50, Perpustakaan Nasional diubah namanya menjadi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, yang berlaku sampai dengan saat ini.
Seiring dengan pelaksanaan Otonomi Daerah, berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 67 Tahun 2000, Perpustakaan Nasional Provinsi menjadi perangkat daerah dengan sebutan Perpustakaan Umum Daerah. Mulai saat itu penyelenggaraan perpustakaan diserahkan kepada kebijakan Pemerintah Daerah masing-masing. Diberlakukannya Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan diharapkan dapat lebih meningkatkan perkembangan perpustakaan di Indonesia.

DAFTAR  PUSTAKA

Almasyari,  Abdul Kharis. 2007. Maju dengan Membaca. Wahjudi Djaja ed. Klaten : Cempaka Putih

Hassan, Fuad. 2004. Perpustakaan Sebagai Pusat Pembelajaran dan Agen Perubahan Masyarakat. dalam Proceeding Rakor Pengembangan Perpustakaan Sekolah dan Masyarakat. Jakarta : Perpusnas RI

Higgleton, Elaine and Anne Seaton ed. 1995. Chambers Essential English Dictionary. Edinburgh : Chambers Harrap Publishers Ltd

Sjahrial-Pamuntjak, Rusina. 2000. Pedoman Penyelenggaraan Perpustakaan.Jakarta : Djambatan

Sjahrial-Pamuntjak, Rusina. 2000. Pedoman Penyelenggaraan Perpustakaan.Jakarta : Djambatan

Sumiati, Opong dan Nurahmah Arief. 2004. Pengantar Ilmu Perpustakaan.Hernandono ed. Jakarta : Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Susilo, Frans dkk. 2007. Pengelolaan Perpustakaan.  F. Rahayuningsih. ed. Yogyakarta : Graha Ilmu

Suwarno, Wiji. 2007. Dasar-Dasar Ilmu Perpustakaan Sebuah Pendekatan Praktis. Yogyakarta : AR-Ruzz Media

Posted by Agus wahyu46 at 11:32 AM

Membentuk Pustakawan Profesional Menuju Pengembangan Perpustakaan Ideal

Ideal merupakan kata yang akan memiliki banyak arti dikarenakan ini sangat berhubungan dengan pandangan pribadi seseorang. Akan sangat sulit untuk mengatakan bahwa sesuatu itu sudah ideal atau belum. Mungkin ideal bagi pemahaman satu orang akan sangat berbeda dengan pemahaman orang lain. Begitu juga halnya dengan sebuah perpustakaan ideal. Perpustakaan ideal akan memiliki pengertian bahwa perpustakaan itu mendekati atau hampir memenuhi keinginan semua orang dan harapan orang-orang terhadap sebuah perpustakaan. Walaupun pada akhirnya ideal ini tidak akan tercapai dikarenakan sifat manusia yang tidak pernah merasa puas. Selalu saja ada hal-hal yang harus diperbaiki atau diperbaharui setiap hari bahkan setiap detiknya. Sudah tidak terbantahkan lagi arti penting kehadiran perpustakaan karena manfaatnya yang sangat besar bagi upaya mencerdaskan masyarakat baik yang tinggal di perkotaan, pedesaan, dan tidak mengenal status sosial, semua memerlukan perpustakaan.

Ada beberapa hal yang harus dicapai atau dimiliki oleh sebuah perpustakaan yang bisa disebut ideal, antara lain gedung yang nyaman dan letaknya strategis serta didukung oleh teknologi informasi yang up to date, administrasi perpustakaan dikelola sesuai dengan prosedur, Jaringan sosial dan informasi antar perpustakaan terjalin dengan baik, adanya sumber dana yang cukup, dan yang tidak boleh dilupakan adalah memiliki SDM yang berkompeten di bidang perpustakaan. Perpustakaan yang selalu tumbuh dan berkembang sesuai dengan tuntutan masyarakat informasi erat hubungannya dengan SDM atau orang yang bekerja mengelola perpustakaan (pustakawan), bagi masyarakat awam profesi pustakawan merupakan pekerjaan most unpopular job (pekerjaan paling tidak menyenangkan) tetapi tidak semua orang tahu bahwa pekerjaan pustakawan sangatlah kompleks, bergengsi dan intelek karena pekerjaannya bersentuhan dengan ilmu pengetahuan dan memerlukan keahlian khusus.

Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) sebagai organisasi yang menghimpun para pustakawan (dalam Rachman, 2006: 45-46) menyatakan bahwa “pustakawan” adalah seorang yang melaksanakan kegiatan perpustakaan dengan jalan memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan tugas lembaga induknya berdasarkan ilmu pengetahuan, dokumentasi dan informasi yang dimilikinya melalui pendidikan. Pustakawan adalah seorang yang berkarya secara professional di bidang perpustakaan dan informasi. Berdasarkan definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa pustakawan adalah profesi bagi orang yang bekerja di perpustakaan dan pusat informasi. Profesi pustakawan tidak membedakan antara pustakawan pemerintah (PNS) atau pustakawan swasta (NON- PNS).

Dari uraian diatas menimbulkan beberapa pertanyaan, bagaimana dengan kondisi profesionalisme pustakawan saat ini, apakah pustakawan sudah melaksanakan tugasnya dengan profesional? Karena fakta di lapangan menunjukkan bahwa masih ada pustakawan yang belum profesional dalam pekerjaannya, berikut ini merupakan faktor pemicu ketidakprofesionalan pustakawan dalam pekerjaan antara lain:

1.    Latar belakang pendidikan pustakawan.

Latar belakang pendidikan pustakawan yang non-perpustakaan sedikit banyak dapat menghambat lancarnya kegiatan kerja sehingga profesionalisme pustakawan sebagai tenaga fungsional diragukan. Pernyataan pustakawan merupakan tenaga profesional yang menuntut keahlian khusus, sesuai dengan pernyataan Lasa HS dalam Blog Cerita Ning (http://ceritaning.blogspot.com)  bahwa “pendidikan profesional diarahkan terutama untuk penguasaan keahlian tertentu”. Pengelola yang berpendidikan Ilmu Perpustakaan diharapkan selain dapat menguasai dan mengembangkan Ilmu Perpustakaan, juga dapat mengembangkan profesi kepustakawanan. Dengan begitu seorang pustakawan bisa menduduki dan melaksanakan jabatan fungsional dengan baik. Saat ini, untuk membentuk pustakawan yang profesional di bidangnya selain melalui pendidikan formal, bisa juga didapat dari pendidikan non formal yaitu berupa training dan pelatihan secara continue di bidang perpustakaan.

2.    Ketidakmampuan pustakawan dalam berkomunikasi dengan baik.

Penyebab ketidakmampuan pustakawan dalam berkomunikasi diantaranya pustakawan tidak percaya diri atau tidak yakin dengan kemampuannya, pustakawan tidak menguasai bahasa dan yang lainnya. Komunikasi merupakan salah satu soft competency pustakawan, Sri Rohyanti Zulaikha dalam Blog Cerita Ning (http://ceritaning.blogspot.com) mengatakan “..bahwa salah satu soft competency diantaranya adalah kemampuan komunikasi dan bagaimana berkomunikasi yang efektif karena pustakawan adalah  mitra intelektual yang memberikan jasa kepada pemakai’’. Jadi seorang pustakawan harus ahli dalam berkomunikasi baik lisan maupun tulisan. Dapat disimpulkan bahwa komunikasi yang baik merupakan modal utama untuk mendukung kelancaran interaksi yang baik pula antar sesama pustakawan dan pustakawan dengan pemustaka sehingga pekerjaan sebagai penyedia jasa informasi dan penerima jasa informasi berjalan lancar. Selain itu, dapat dilakukan kegiatan pelatihan dan lomba menulis artikel, pidato, story telling dengan tujuan pustakawan terlatih dan termotivasi untuk menulis sehingga masalah komunikasi dapat diatasi.

3.    Belum adanya kesiapan pustakawan sebagai penyedia jasa informasi.

Dalam arti pustakawan masih menganggap dirinya hanya duduk diam menjaga koleksi. Ini disebabkan kurangnya rasa ingin tahu dan rasa empati terhadap pekerjaan dan pengguna. Untuk itu, perlu diadakannya suatu pelatihan yang mengasah emotional intelligence pustakawan. Pelatihan ini bertujuan untuk memahami perasaan sendiri dan orang lain sekaligus dapat memotivasi diri untuk lebih peka terhadap lingkungannya.

Terwujudnya perpustakaan ideal tergantung kepada peran nyata seluruh pihak terkait, baik masyarakat, pemerintah, swasta, dan pengelola perpustakaan itu sendiri. Karena perpustakaan ideal tidak akan pernah memiliki makna jika hanya sebatas gambaran dan tulisan yang tidak diimplementasikan. Oleh karena itu, aksi nyata seluruh pihak menjadi penentu terbangun atau tidaknya serta berhasil atau gagalnya perpustakaan ideal itu. Dengan memiliki SDM yang profesional di bidang perpustakaan akan mendukung pengembangan perpustakaan ideal yang dapat memenuhi keinginan dan harapan orang banyak, sehingga perpustakaan ideal yang diidamkan mudah-mudahan dapat menjadi kenyataan.

DAFTAR PUSTAKA

Rachman, Hermawan.2006. Etika Kepustakawanan : Suatu Pendekatan Terhadap Kode Etik  Pustakawan Indonesia. Jakarta : Sagung Seto.

Lasa.HS.2010. ”Pendidikan dan Profesi Pustakawan”. Diambil dari Ceritaning.blogspot.com/2011_01_01_archive.html pada tanggal 18 Februari 2015. Rabu. 15.35 wib.

Zulaikha, Sri Rohyanti.2010. Materi Perkuliahan “Ketrampilan Sosial dalam Konteks Kepustakawanan”. Diambil dari Ceritaning.blogspot.com/2011_01_01_archive.html. pada tanggal 18 Februari 2015.Rabu.15.45 wib.

Perpustakaanku Sebagai Sarana Revolusi Mental Anak Indonesia

Oleh : 

Perpustakaan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah tempat, gedung, ruang yang disediakan untuk pemeliharaan dan penggunaan koleksi buku. Namun dalam arti tradisional, perpustakaan adalah sebuah koleksi buku dan majalah. Walaupun dapat diartikan sebagai koleksi pribadi perseorangan, namun perpustakaan lebih umum dikenal sebagai sebuah koleksi besar yang dibiayai dan dioperasikan oleh sebuah kota atau institusi, serta dimanfaatkan oleh masyarakat yang penghasilannya kurang dari rata-rata. Dengan demikian, perpustakaan dapat diartikan secara luas sebagai salah satu unit kerja yang berupa tempat untuk mengumpulkan, menyimpan, mengelola, dan mengatur koleksi bahan pustaka secara sistematis, untuk dipergunakan oleh pemakai sebagai sumber informasi sekaligus sebagai sarana belajar yang menyenangkan.

Perpustakaan merupakan upaya untuk memelihara dan meningkatkan efisiensi dan efektifitas proses belajar-mengajar. Perpustakaan yang terorganisasi secara baik dan sistematis, secara langsung atau pun tidak langsung dapat memberikan kemudahan bagi proses belajar mengajar di sekolah tempat perpustakaan tersebut berada. Hal ini, terkait dengan kemajuan bidang pendidikan dan dengan adanya perbaikan metode belajar-mengajar yang dirasakan tidak bisa dipisahkan dari masalah penyediaan fasilitas dan sarana pendidikan.

Tujuan dibentuk perpustakaan adalah untuk membantu masyarakat dalam segala umur dengan memberikan kesempatan dengan dorongan melalui jasa pelayanan perpustakaan agar mereka:

Ø  Dapat mendidik dirinya sendiri secara berkesimbungan

Ø Dapat tanggap dalam kemajuan pada berbagai lapangan ilmu pengetahuan, kehidupan sosial dan politik

Ø  Dapat memelihara kemerdekaan berfikir yang konstruktif untuk menjadi anggota keluarga dan masyarakat yang lebih baik

Ø  Dapat mengembangkan kemampuan berfikir kreatif, membina rohani dan dapat menggunakan kemempuannya untuk dapat menghargai hasil seni dan budaya manusia

Ø  Dapat meningkatkan tarap kehidupan sehari-hari dan lapangan pekerjaannya

Ø  Dapat menjadi warga negara yang baik dan dapat berpartisipasi secara aktif dalam pembangunan nasional dan dalam membina saling pengertian antar bangsa

Ø  Dapat menggunakan waktu senggang dengan baik yang bermanfaat bagi kehidupan pribadi dan sosial.

Adapun fungsi perpustakaan secara umum diantaranya yaitu :

Fungsi Informasi

Perpustakaan menyediakan berbagai jenis informasi yang meliputi bahan tercetak, terekam maupun koleksi lainnya agar pengguna perpustakaan dapat:

Ø  mengambil berbagai ide dan buku yang ditulis oleh para ahli dan berbagai bidang ilmu,

Ø  menumbuhkan rasa percaya diri dalam menyerap informasi dalam berbagai bidang serta mempunyai kesempatan untuk dapat memilih informasi yang layak yang sesuai dengan kebutuhannya,

Ø  memperoleh kesempatan untuk mendapatkan berbagai informasi yang tersedia di perpustakaan dalam rangka mencapai tujuan yang diinginkan,

Ø  memperoleh informasi yang tersedia di perpustakaan untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.

Fungsi pendidikan

Perpustakaan menyediakan berbagai informasi yang meliputi bahan tercetak, terekam maupun koleksi lainnya sebagai sarana untuk menerapkan tujuan pendidikan. Melalui fungsi ini manfaat yang diperoleh adalah:

Ø  agar pengguna perpustakaan mendapat kesempatan untuk mendidik diri sendiri secara berkesinambungan,

Ø  untuk membangkitkan dan mengembangkan minat yang telah dimiliki pengguna yaitu dengan mempertinggi kreativitas dan kegiatan intelektual,

Ø  mempertinggi sikap sosial dan menciptakan masyarakat yang demokratis,

Ø  mempercepat penguasaan dalam bidang pengetahuan dan teknologi baru.

Fungsi kebudayaan

Perpustakaan menyediakan berbagai informasi yang meliputi bahan tercetak, terekam maupun koleksi lainnya yang dapat dimanfaatkan oleh pengguna untuk:

Ø  meningkatkan mutu kehidupan dengan memanfaatkan berbagai informasi sebagai rekaman budaya bangsa untuk meningkatkan taraf hidup dan mutu kehidupan manusia baik secara individu maupun secara kelompok,

Ø  membangkitkan minat terhadap kesenian dan keindahan, yang merupakan salah satu kebutuhan manusia terhadap cita rasa seni,

Ø  mendorong tumbuhnya kreativitas dalam berkesenian,

Ø  mengembangkan sikap dan sifat huhungan manusia yang positif serta menunjang kehidupan antar budaya secara harmonis,

Ø  menumbuhkan budaya baca di kalangan pengguna sebagai bekal penguasaan alih teknologi.

Fungsi rekreasi

Perpustakaan menyediakan berbagai informasi yang meliputi bahan tercetak, terekam maupun koleksi lainnya untuk:

Ø  menciptakan kehidupan yang seimbang antara jasmani dan rohani,

Ø  mengembangkan minat rekreasi pengguna melalui berbagai bacaan dan pemanfaatan waktu senggang,

Ø  menunjang berbagai kegiatan kreatif serta hiburan yang positif.

Fungsi penelitian

Sebagai fungsi penelitian perpustakaan menyediakan berbagai informasi untuk menunjang kegiatan penelitian. Informasi yang disajikan meliputi berbagai jenis dan bentuk informasi, sesuai dengan kebutuhan lembaga.

Fungsi deposit

Sebagai fungsi deposit perpustakaan berkewajiban menyimpan dan melestarikan semua karya cetak dan karya rekam yang diterbitkan di wilayah Indonesia. Perpustakaan yang menjalankan fungsi deposit secara nasional adalah Perpustakaan Nasional. Sebagai fungsi deposit Perpustakaan Nasional merupakan perpustakaan yang ditunjuk oleh UU No 4 Tahun 1990 yaitu Undang-Undang Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam untuk menghimpun, menyimpan, melestarikan, dan mendayagunakan semua karya cetak dan karya rekam yang dihasilkan di wilayah Republik Indonesia, atau karya cetak dan karya rekam tentang Indonesia yang diterbitkan di luar negeri, dan oleh lembaga atau importir diedarkan di wilayah Republik Indonesia.

Perpustakaan banyak jenisnya. Salah satunya adalah perpustakaan sekolah. Hampir semua pihak menyetujui mengenai pentingnya keberadaan Perpustakaan Sekolah dalam menunjang mutu pendidikan di suatu sekolah. Keberadaannya dianggap akan sangat membantu siswa, sekurangnya dalam hal meningkatkan minat baca dan menyediakan koleksi bahan bacaan bagi keperluan tugas belajar. Bagi guru, keberadaan Perpustakaan Sekolah akan sangat membantu tugasnya dalam proses kegiatan belajar mengajar (KBM) sebagai bagian dari sarana belajar di sekolah.

Begitu sangat pentingnya keberadaan Perpustakaan Sekolah, sehingga keberadaannya sebagai bagian dari sistem nasional perpustakaan harus diatur secara khusus melalui Undang-Undang (UU) No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. Dalam UU ini, secara jelas disebutkan bahwa tugas dan kewajiban Perpustakaan Sekolah adalah ikut bertanggung jawab dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, khususnya bagi siswa di lingkungan sekolah dimana perpustakaan tersebut berada. Adapun, tugas khusus dari Perpustakaan Sekolah adalah mendukung upaya peningkatan minat baca di kalangan pelajar dalam rangka mewujudkan budaya gemar membaca masyarakat Indonesia.

Perpustakaan disediakan di setiap sekolah dengan tujuan sebagai sarana pelengkap untuk menunjang pendidikan. Di era modern seperti saat ini, sudah banyak perpustakaan sekolah yang di isi dengan berbagai macam fasilitas. Seperti perpustakaan SMA Negeri 1 Bobotsari, kini sudah semakin baik dan tertata. Dengan fasilitas-fasilitas yang disediakan antara lain yaitu :

  1. Koleksi buku, ada buku fiksi dan non fiksi.
  2. Majalah dan koran.
  3. Free hotspot area.
  4. (AC).
  5. Karpet serta bantal untuk belajar lesehan.
  6. Meja dan kursi, dan lain-lain.

Perpustakaan SMA Negeri 1 Bobotsari juga melayani peminjaman buku. Baik fiksi maupun non fiksi. Dalam peminjaman buku, membutuhkan syarat yaitu siswa harus mempunyai kartu perpustakaan. Kartu perpustakaan sangat sederhana dalam pembuatannya. Hanya dengan memberikan 2 lembar foto siswa dan mengisi formulir identitas kartu perpustakaan dengan cepat akan jadi. Pembuatan kartu perpustakaan dibantu oleh pegawai perpustakaan yang berjaga.  Sehingga terkesan pembutannya terlihat sederhana.

Perpustakaan Sekolah pun dapat dijadikan sebagai sarana belajar dalam memupuk budaya gemar membaca, mampu mengembangkan pengetahuan, wawasan dan keterampilan, serta mampu merangsang pengembangan gagasan dan kreatifitas intelektual siswa. Yang terakhir, Perpustakaan Sekolah juga dapat dijadikan sebagai sarana rekreasi ilmiah, yang dapat memberikan kesenangan dan kenyamanan bagi siswa, khsususnya saat mereka beristirahat atau saat waktu kosong belajar di kelas. Tidak mustahil pula, di suatu saat nanti, Perpustakaan Sekolah dapat membuka layanannya di saat hari libur, khususnya hari Minggu, untuk memberikan kesempatan waktu yang lebih banyak bagi siswa.Perpustakaan sekolah berperan aktif dalam meningkatkan kemauan siswa untuk lebih rajin membaca. Membaca yang dimaksudkan dapat menambah wawasan dan pemahaman terhadap berbagai macam ilmu yang bisa kita dapatkan dari koleksi buku yang terpampang rapi dijejeran rak buku.  Koleksi buku yang disajikan juga tentu memiliki nilai lebih dari berbagai aspek. Sehingga dapat dikatakan koleksi yang disediakan oleh perpustakaan sekolah adalah koleksi-koleksi bacaan pilihan yang pastinya bermutu untuk berbagai aspek kehidupan.

Selain koleksi-koleksi buku, perpustakaan sekolah juga memiliki tata tertib yang dijadikan sebagai pedoman pengunjung perpustakaan. Diantaranya yaitu siswa diharapkan mampu mengendalikan volume suaranya selama berada di perpustakaan agar tidak berbicara terlalu keras karena dapat mengganggu pengunjung yang lain. Hal tersebut mengajarkan bahwa dalam kehidupan sosial, sikap toleransi atau menghargai sesama sangatlah perlu dilakukan. Agar tercipta sebuah kerukunan antara masing-masing individu sehingga tercipta persatuan dan kesatuan yang murni lahir dari setiap insan manusia.

Selain itu, ada pula sanksi yang diberlakukan apabila telat dalam pengembalian buku. Dari hal itu rasa tanggung jawab dan disiplin perlu ditingkatkan. Dapat pula mengajarkan bahwa segala perbuatan jika tidak sesuai dengan aturan, memiliki konsekuensi masing-masing.

Perpustakaan sekolah juga mengharuskan siswa untuk melepas alas kaki dan menitipkan tas jika akan memasuki perpustakaan. Siswa dituntut agar dapat menerapkan kerapian dimana pun berada.

Tata tertib yang diberlakukan di perpustakaan sekolah masih banyak, namun dari hal-hal yang sudah diuraikan tersebut dapat dicermati bahwa setiap tata tertib yang diberlakukan sudah pasti memiliki manfaat dan tujuan yang baik untuk semua kalangan. Khususnya warga sekolah. Adanya tata tertib dalam perpustakaan sekolah, siswa sebagai generasi muda bangsa dan aset bangsa dapat meningkatkan nilai-nilai karakter yang luhur. Generasi muda yang nantinya akan meneruskan perjuangan bangsa harus sejak dini merubah keadaan mentalnya menjadi lebih baik. Atau dapat dikatakan siswa seharusnya dapat melakukan revolusi mental ke arah yang lebih positiv. Anak-anak Indonesia perlu perubahan untuk menjadi generasi emas harapan bangsa. Hal-hal tersebut dapat dilatih sejak dini dengan cara mentaati tata tertib yang diberlakukan. Patuh dan taat terhadap segala peraturan. Menjalankan norma sesuai dengan apa yang seharusnya dilaksanakan. Menjaga sikap danatitude dalam setiap perbuatan.

Dapat ditarik benang merah dalam hal ini yaitu, dari hal-hal kecil seperti melalui tata tertib yang diberlakukan dalam perpustakaan sekolah dapat dijadikan sebagai suatu sarana untuk revolusi mental atau perubahan sikap yang mengarah ke dalam hal-hal yang lebih baik.

Sehingga marilah kita manfaatkan dengan baik segala sarana prasarana yang dapat menunjang revolusi mental ke arah yang lebih baik agar dapat menciptakan manusia-manusia yang unggul apalagi sebagai anak-anak Indonesia yang nantinya akan menjadi tonggak penerus bangsa.

http://catatanamwid.blogspot.co.id/2015/11/artikel-perpustakaan.html